19 Mar 2020

Pelajaran Tauhid di Balik Wabah Virus Corona (COVID-19)


Oleh: Dr. Azi Ahmad Tadjudin, M.Ag.
(Mudir Ma'had Uswatun Hasanah Purwakarta)

Salah satu gaya bahasa (uslub) yang Allah SWT gunakan dalam mengenalkan Dzat-Nya sebagi Tuhan pada manusia dalam al-Qur'an, yaitu kata Rabb (Yang mengatur, Mengurus). Kata tersebut diulang sebanyak dua kali dalam ayat pembuka surat al-Mu'awwidzatayn, yaitu Al-Falaq dan An-Naas.

Ibnu Abbas menafsirkan bahwa kata 'aku belindung' (a'uudzu) bermakna 'aku memohon perlindungan' (asta'iidzu wa a'tashimu) pada Rabb Yang Menguasai waktu subuh dan Yang Mengatur manusia.

Manusia sebagai makhluk yang lemah tentu sangat membutuhkan Pelindung. Pelindung yang benar-benar melindungi, bukan membinasakan. Bukan pula pelindung yang merusak bahkan menghancurkan. Itulah para pelindung semu yang tak berdaya bahkan tak punya kekuatan apapun. Oleh karena itu, setiap pelindung selain Allah SWT itulah pelindung yang lemah, yang tidak mampu sama sekali menjaga dan memelihara manusia.

Bentuk nyata perlindungan Allah SWT kepada manusia dan alam semesta ini adalah Syariat Islam, yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Shallaahu 'Alayhi Wasallam sebagai Rahmatan (kasih sayang) dari Allah bagi seluruh alam, sekaligus sebagai garansi bagi kelangsungan hidup manusia dan makhluk lainnya (Hifz al-Diin).

Dalam ayat kedua surat Al-Falaq, Allah Subhaanahu Wata'la memerintahkan manusia agar memohon perlindungan kepada Allah SWT dari kejahatan setiap Makhluk yang Dia ciptakan (Syarr Maa Khalaqa).

Imam 'Aly al-Shabuni dalam Shafwah al-Tafaasir (Juz 3/ hlm. 598) menjelaskan bahwa kejahatan makhluk yang diciptakan adalah perbuatan jahat dari seluruh makhluk-Nya seperti golongan Jin, Manusia dan hewan, yang dapat menyakiti dan membinasakan makhluk-Nya.

Salah satu bentuk perlindungan Allah kepada manusia diantaranya terdapat dalam syariat makan dan minum. Misalnya, setiap makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh manusia harus dipastikan dulu status hukumnya; baik dari zat atau cara mendapatkannya. Setiap tindakan dan perbuatan yang melanggar hukum syara' (ma'siat) maka akan menimbulkan fasad (kerusakan) baik bagi pelaku ataupun orang lain yang tidak melakukannya (QS. al-A'raf: 96).

Virus Corona (COVID-19) merupakan salah satu makhluk ciptaan Allah yang hari ini dianggap sebagai ancaman yang mematikan bagi manusia. 'Corona' dalam bahasa Arab berarti al-jam'u, artinya bersama atau menyertai.

Jika orang arab mengatakan "Qarana bayna al-Jawzayni" (berkumpul sepasang suami istri), maka jika keduanya berpisah/ cerai dikenal dengan istilah firoq (berpisah).

Qarana dalam istilah Ilmu Fiqih bab Haji ada istilah Haji Qiran, artinya penggabungan niat haji dan umroh bersamaan (Qiron). Dalam ilmu sharaf dikenal istilah Lafif Maqruun yang artinya: kalimat yang memiliki dua huruf 'illat secara berdampingan pada 'ain dan laam fi'ilnya. Seperti contoh kata Sya - Wa - Ya. Sedangkan lawan sebaliknya dikenal dengan istilah Lafif Mafruuq.

Virus Corona menurut para ahli, awalnya hidup bersama hewan buas atau pada hewan yang dilarang oleh agama untuk dikonsumsi (khabitsah). Namun, karena manusia melanggar batas dan menganiaya hewan-hewan tersebut dengan cara diburu atau dibunuh dengan cara-cara yang zhalim, maka virus Corona berpindah tempatnya ketika hewan tersebit dikonsumsi oleh manusia, hingga mewabah pertama kali di Kota Wuhan, Cina.

Maka sejak saat itulah virus Corona hidup dan berkembang mengancam manusia, karena manusialah yang pertama kali mengancam habitat mereka yang telah dipisahkan dari habitat aslinya hewan.

COVID-19 (Coronavirus Disease) menjadi wabah yang berbahaya bagi manusia, yang muncul saat manusia itu sendiri mengancam nyawa manusia lain dan hewan yang tidak bersalah akibat kezaliman para penguasa China dan India terhadap umat Islam di Uighur dan India.

Mewabahnya COVID-19 menjadi tanda bahwa Allah SWT hendak meneguhkan kekuasaan-Nya, disaat para penguasa yang angkuh dan sombong membajak kekuasaan-Nya hingga memposisikan diri seperti Tuhan.

Mewabahnya COVID-19 juga hakikatnya Allah SWT hendak mengajarkan kepada manusia, bahwa jika selama ini ayat-ayat tanziliyyah dalam al-Qur'an sudah tidak diindahkan atau tidak dipedulikan, maka melalui virus Corona inilah Sang Khalik mengajarkan arti pentingnya eksistensi Sang Pelindung hakiki. Serta arti pentingnya ajaran yang dapat menyelamatkan manusia, yang diturunkan oleh Sang Pencipta Manusia.

Andai saja tentara Allah 'Azza wa Jalla yang benama virus Corona belum bisa menyadarkan manusia untuk taat dan kembali kepada Syariat-Nya, maka harus dengan apalagi Allah mengingatkan manusia agar takut kapada-Nya?

Alaa kulli haal, bila virus Corona sudah bersatu dengan tubuh manusia, maka sudah saatnya manusia memutuskan (faroqo) terhadap segala bentuk penghambaan dan ketaaan (Ilah) selain kepada Allah Subhaanahu Wata'la.

Allah Subhaanahu Wata'la Berfirman,

أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَن يَأْتِيَهُم بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ ﴿٩٧﴾ أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَن يَأْتِيَهُم بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ ﴿٩٨﴾ أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ ﴿٩٩﴾

"Apakah penduduk berbagai negeri itu merasa aman akan datangnya azab kami kepada mereka pada malam hari, saat mereka sedang tidur nyenyak?"
"Atau apakah penduduk berbagai negeri itu merasa aman akan datangnya azab kami kepada mereka pada pagi hari saat mereka sedang bersenang senang."
"Atau apakah mereka merasa aman dari azab Allah? Hanya kaum yang celaka saja yang merasa aman dari azab Allah yang datang secara tiba-tiba."
(QS. al-A'raf: 97-99)

Wallaahu a'lam bi ash-Shawaab.

Sumber gambar: vectorstock [dot] com
Disqus Comments